Kamis (7/11) dinihari WIB nanti, sebuah partai berlabel big match tersaji
di Grup H Liga Champions antara dua tim dengan tradisi kuat di
kompetisi ini, yaitu Barcelona dan AC Milan. Pertempuran antara pemegang
empat kali gelar menghadapi pemegang tujuh gelar ini sudah sering
terjadi dalam beberapa musim terakhir, dengan Barcelona muncul sebagai
kekuatan yang lebih dominan.
Dalam tiga laga kandang terakhir
mereka menghadapi Milan, Barcelona setidaknya mampu membukukan dua
gol.
Musim lalu di tempat yang sama, Barcelona menghajar Milan 4-0,
membalikkan keunggulan Milan yang sebelumnya menang 2-0 di San Siro pada
babak 16 besar Liga Champions.
Dilihat dari pencapaian di
masing-masing kompetisi domestik, Barcelona juga jauh lebih meyakinkan
ketimbang Milan. Mereka memimpin klasemen La Liga dengan poin 34 dari
kemungkinan 36. Dalam 12 laga tersebut, mereka juga telah memenangi El Classico
jilid pertama dengan dominasi yang kentara. Di lain pihak, Milan justru
mengukir salah satu start terburuk mereka sepanjang sejarah. Tiga laga
terakhir bahkan mereka lalui tanpa satupun kemenangan, termasuk catatan
negatif berupa kebobolan enam kali. Satu hal lagi yang patut menjadi
perhatian, musim ini Milan belum sekalipun memenangi laga tandang baik
di kompetisi Seri A maupun Liga Champions.
Maka saat laga nanti
berlangsung di Camp Nou, Barcelona di atas kertas diunggulkan untuk
meraih tiga poin sekaligus melicinkan jalan mereka menuju sistem gugur
sebagai juara grup. Barcelona yang kini telah mengukir tujuh angka
memang berpeluang untuk memastikan lolos jika dalam laga nanti mampu
mengalahkan Milan sambil berharap laga Ajax Amsterdam menghadapi Glasgow
Celtic berakhir imbang.
Ulas Taktik dan Prediksi Pertandingan
Pelatih Gerardo Martino di kubu Barca memiliki ciri permainan yang berbeda dibandingkan dua pendahulunya yang mengusung tiki-taka, yaitu Pep Guardiola dan Tito Vilanova. Meski masih muncul sebagai tim dengan ball possession tertinggi
di kompetisi La Liga, Martino mampu membuat Barcelona bermain dengan
cara yang berbeda seperti menunggu lawan menyerang lalu melakukan
serangan balik. Laga lawan Rayo Vallecano beberapa waktu lalu dimenangi
Barca dengan keunggulan tim lawan pada penguasaan bola, sesuatu yang
nyaris tidak pernah terjadi sejak era Pep Guardiola.
Barcelona
memang patut mencoba cara lain dalam bermain. Musim lalu, mereka dihajar
telak Bayern Muenchen dengan agregat 7-0 pada babak semi final, angka
yang menunjukkan betapa Bayern telah menemukan cara mengalahkan Barca
dengan melakukan pressing sepanjang pertandingan.
Martino
tetap menggunakan formasi 4-3-3. Jika trio gelandang Sergio Busquets,
Xavi Hernandez dan Andres Iniesta nyaris tak tergeser, maka susunan tiga
pemain depan yang tampil sejak awal masih kerap dirotasi. Martino dapat
memilih Cesc Fabregas sebagai penyerang tengah jika ia ingin
menempatkan Lionel Messi di sisi kanan penyerangan. Taktik ini efektif
saat musim lalu mereka berhasil mengeksploitasi lini pertahanan Milan
melalui pergerakan lincah Messi di sisi kanan tersebut. Jika Messi yang
dipilih untuk menjadi penyerang tengah, Martino kemungkinan besar akan
menurunkan Alexis Sanchez di sisi kanan, dengan Pedro yang siap
dimainkan di babak kedua.
Di kubu Milan, pelatih Max Allegri
yang posisinya kian terancam tentu saja akan memperlakukan laga ini
bagaikan laga final. Hasil positif menghadapi tim sekuat Barcelona bukan
hanya dapat menyelamatkan jabatannya, namun dapat membangkitkan moral
bertanding tim yang sedang terpuruk. Digelarnya pemusatan latihan
tertutup juga tengah diupayakan untuk mengembalikan fokus pemain ke
lapangan, sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hasil-hasil
buruk yang mereka derita.
Berbeda dengan performa mereka di
kompetisi domestik, performa Milan di Liga Champions sebetulnya tidak
buruk. Mereka mampu meraih lima angka dari kemungkinan sembilan,
termasuk menahan Barca 1-1 di San Siro. Dengan pencapaian ini, Milan
setidaknya butuh untuk menahan imbang Barca di Camp Nou lalu berjuang
untuk meraih setidaknya empat poin lagi dari dua laga lawan Ajax dan
Celtic. Jika mereka kalah sementara Celtic mampu mengalahkan Ajax, maka
posisi mereka akan tergeser oleh juara Skotlandia tersebut dan peluang
mereka untuk lolos ke babak 16 besar akan mengecil.
Allegri
dipercaya akan menggunakan pola 4-3-3 sama dengan yang dikembangkan
Barca. Trio Ricardo Kaka, Valter Birsa dan Mario Balotelli akan memimpin
penyerangan Milan. Mereka akan disokong tiga gelandang yang kemungkinan
besar akan diisi Riccardo Montolivo, Sulley Muntari dan Nigel De Jong.
Sementara lini belakang akan diisi Ignazio Abate di sisi kanan bersama
Cristian Zapata dan Philippe Mexes di sentral pertahanan. Satu tempat
lagi kemungkinan diisi Kevin Constant jika Mattia De Sciglio belum
dinyatakan fit. Untuk posisi penjaga gawang, meski Cristian Abbiati
dikabarkan mulai pulih, namun Marco Amelia lebih berpeluang menjadi
pilihan utama.
Meski segala statistik dan performa terkini
mengunggulkan Barcelona, namun motivasi besar Milan dalam laga ini dapat
membalikkan segala prediksi. Disamping fakta bahwa Milan adalah tim
dengan tradisi kuat di Liga Champions, mereka juga dapat memanfaatkan
kelemahan lini belakang Barca yang masih menunggu kesembuhan Gerard
Pique dan Adriano. Kabar terakhir menyebutkan kedua pemain ini masih
berlatih secara terpisah dengan pemain-pemain lain. Kecerdikan Kaka dan
ketajaman Balotelli diharapkan muncul saat laga sulit ini berlangsung.
Jika mampu mencuri gol dan bertahan dengan disiplin seperti yang mereka
peragakan di San Siro, rasanya Milan dapat setidaknya berharap membawa
pulang satu poin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar