Rabu, 06 November 2013

Jelang Barcelona vs AC Milan: Upaya Milan Bangkit Dari Keterpurukan

Kamis (7/11) dinihari WIB nanti, sebuah partai berlabel big match tersaji di Grup H Liga Champions antara dua tim dengan tradisi kuat di kompetisi ini, yaitu Barcelona dan AC Milan. Pertempuran antara pemegang empat kali gelar menghadapi pemegang tujuh gelar ini sudah sering terjadi dalam beberapa musim terakhir, dengan Barcelona muncul sebagai kekuatan yang lebih dominan. 

Dalam tiga laga kandang terakhir mereka menghadapi Milan, Barcelona setidaknya mampu membukukan dua
gol. Musim lalu di tempat yang sama, Barcelona menghajar Milan 4-0, membalikkan keunggulan Milan yang sebelumnya menang 2-0 di San Siro pada babak 16 besar Liga Champions.

Dilihat dari pencapaian di masing-masing kompetisi domestik, Barcelona juga jauh lebih meyakinkan ketimbang Milan. Mereka memimpin klasemen La Liga dengan poin 34 dari kemungkinan 36. Dalam 12 laga tersebut, mereka juga telah memenangi El Classico jilid pertama dengan dominasi yang kentara. Di lain pihak, Milan justru mengukir salah satu start terburuk mereka sepanjang sejarah. Tiga laga terakhir bahkan mereka lalui tanpa satupun kemenangan, termasuk catatan negatif berupa kebobolan enam kali. Satu hal lagi yang patut menjadi perhatian, musim ini Milan belum sekalipun memenangi laga tandang baik di kompetisi Seri A maupun Liga Champions. 

Maka saat laga nanti berlangsung di Camp Nou, Barcelona di atas kertas diunggulkan untuk meraih tiga poin sekaligus melicinkan jalan mereka menuju sistem gugur sebagai juara grup. Barcelona yang kini telah mengukir tujuh angka memang berpeluang untuk memastikan lolos jika dalam laga nanti mampu mengalahkan Milan sambil berharap laga Ajax Amsterdam menghadapi Glasgow Celtic berakhir imbang.

Ulas Taktik dan Prediksi Pertandingan

Pelatih Gerardo Martino di kubu Barca memiliki ciri permainan yang berbeda dibandingkan dua pendahulunya yang mengusung tiki-taka, yaitu Pep Guardiola dan Tito Vilanova. Meski masih muncul sebagai tim dengan ball possession tertinggi di kompetisi La Liga, Martino mampu membuat Barcelona bermain dengan cara yang berbeda seperti menunggu lawan menyerang lalu melakukan serangan balik. Laga lawan Rayo Vallecano beberapa waktu lalu dimenangi Barca dengan keunggulan tim lawan pada penguasaan bola, sesuatu yang nyaris tidak pernah terjadi sejak era Pep Guardiola.

Barcelona memang patut mencoba cara lain dalam bermain. Musim lalu, mereka dihajar telak Bayern Muenchen dengan agregat 7-0 pada babak semi final, angka yang menunjukkan betapa Bayern telah menemukan cara mengalahkan Barca dengan melakukan pressing sepanjang pertandingan.

Martino tetap menggunakan formasi 4-3-3. Jika trio gelandang Sergio Busquets, Xavi Hernandez dan Andres Iniesta nyaris tak tergeser, maka susunan tiga pemain depan yang tampil sejak awal masih kerap dirotasi. Martino dapat memilih Cesc Fabregas sebagai penyerang tengah jika ia ingin menempatkan Lionel Messi di sisi kanan penyerangan. Taktik ini efektif saat musim lalu mereka berhasil mengeksploitasi lini pertahanan Milan melalui pergerakan lincah Messi di sisi kanan tersebut. Jika Messi yang dipilih untuk menjadi penyerang tengah, Martino kemungkinan besar akan menurunkan Alexis Sanchez di sisi kanan, dengan Pedro yang siap dimainkan di babak kedua.

Di kubu Milan, pelatih Max Allegri yang posisinya kian terancam tentu saja akan memperlakukan laga ini bagaikan laga final. Hasil positif menghadapi tim sekuat Barcelona bukan hanya dapat menyelamatkan jabatannya, namun dapat membangkitkan moral bertanding tim yang sedang terpuruk. Digelarnya pemusatan latihan tertutup juga tengah diupayakan untuk mengembalikan fokus pemain ke lapangan, sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hasil-hasil buruk yang mereka derita.

Berbeda dengan performa mereka di kompetisi domestik, performa Milan di Liga Champions sebetulnya tidak buruk. Mereka mampu meraih lima angka dari kemungkinan sembilan, termasuk menahan Barca 1-1 di San Siro. Dengan pencapaian ini, Milan setidaknya butuh untuk menahan imbang Barca di Camp Nou lalu berjuang untuk meraih setidaknya empat poin lagi dari dua laga lawan Ajax dan Celtic. Jika mereka kalah sementara Celtic mampu mengalahkan Ajax, maka posisi mereka akan tergeser oleh juara Skotlandia tersebut dan peluang mereka untuk lolos ke babak 16 besar akan mengecil.

Allegri dipercaya akan menggunakan pola 4-3-3 sama dengan yang dikembangkan Barca. Trio Ricardo Kaka, Valter Birsa dan Mario Balotelli akan memimpin penyerangan Milan. Mereka akan disokong tiga gelandang yang kemungkinan besar akan diisi Riccardo Montolivo, Sulley Muntari dan Nigel De Jong. Sementara lini belakang akan diisi Ignazio Abate di sisi kanan bersama Cristian Zapata dan Philippe Mexes di sentral pertahanan. Satu tempat lagi kemungkinan diisi Kevin Constant jika Mattia De Sciglio belum dinyatakan fit. Untuk posisi penjaga gawang, meski Cristian Abbiati dikabarkan mulai pulih, namun Marco Amelia lebih berpeluang menjadi pilihan utama.

Meski segala statistik dan performa terkini mengunggulkan Barcelona, namun motivasi besar Milan dalam laga ini dapat membalikkan segala prediksi. Disamping fakta bahwa Milan adalah tim dengan tradisi kuat di Liga Champions, mereka juga dapat memanfaatkan kelemahan lini belakang Barca yang masih menunggu kesembuhan Gerard Pique dan Adriano. Kabar terakhir menyebutkan kedua pemain ini masih berlatih secara terpisah dengan pemain-pemain lain. Kecerdikan Kaka dan ketajaman Balotelli diharapkan muncul saat laga sulit ini berlangsung. Jika mampu mencuri gol dan bertahan dengan disiplin seperti yang mereka peragakan di San Siro, rasanya Milan dapat setidaknya berharap membawa pulang satu poin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar